Assalamu’alaikum wr.wb. inilah sejarah perkembangan media
cetak dan majalah. Monggo di woco.
Sumber : http://ohninaaa.blogspot.co.id/2012/05/perkembangan-media-cetak-surat-kabar.html
I. Sejarah Surat Kabar Dunia
Sebelum
mengenal tulisan, manusia berkomunikasi menggunakan lisan. Sama halnya dalam
berkomunikasi, manusia pada zaman tersebut menyampaikan kabar ataupun
pengumuman dari mulut ke mulut. Setelah mengenal tulisan, manusia menyampaikan
kabar melalui surat tertulis dan papan pengumuman. Sebelum lahirnya suratkabar,
ada dua jenis terbitan berita periodik yaitu lembaran berita dengan tulisan
tangan, dan lembaran pemberitaan tunggal. Kedua media tersebut muncul
bersamaan.
Pertama
di awal kerajaan Romawi yang diprakarsai oleh Raja Imam Agung. Papan pengumuman
ini disebut “Annals” dan digantungkan di setiap serambi rumah. Annals berfungsi
sebagai pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya. Saat
Julius Caesar berkuasa pada tahun 100-44 SM, ia memerintahkan agar kegiatan
setiap anggota senat dan hasil sidang diumumkan pada “Acta Diurna”,
yang juga berisi tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, dan
hal-hal yang perlu disampaikan dan diketahui oleh rakyatnya. Acta
Diurna dicetak ke dalam sebongkah batu atau selembar logam, kemudian
dipasang atau ditempelkan di pusat kota yang disebut “Forum Romanum” (Stadion
Romawi) untuk diketahui umum.
Berita
dari Acta Diurna diebarluaskan oleh para “Diurnanii”. Diurnarii adalah
sebutan untuk orang-orang yang bekerja membuat catatan dari hasil rapat senat
setiap hari untuk para tuan tanah dan hartawan. Kata jurnalistik secara harfiah
berasal dari Acta Diurna yaitu “Diurnal” yang
dalam bahasa Latin berarti “harian” atau “setiap hari”. Kemudian diadopsi ke
dalam bahasa Perancis menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang
berarti “hari”, “catatan harian” atau “laporan”. Dan dari kata “Diunarii” muncul
kata “Diurnalis” atau “journalist” (wartawan).
Kemudian
di Cina muncul lembaran berita terbitan pemerintah yang disebut “Tching-pao”atau King
pau yang berarti kabar dari istana. King Pau beredar
di kantor pengadilan selama masa kekuasaan Dinasti Han. Pada tahun 713-734 M,
Dinasti Tang menerbitkan Kai Yuan Zan Bao yang diwartakan oleh
pejabat resmi pemerintahan. Kai Yuan Zan Bao ditulis tangan
pada sehelai kain sutra. Pada tahun 1351 M, Kaisar Quang Soo mengedarkannya
secara teratur secara seminggu sekali. Kemudian pada tahun 1582 ditemukan surat
kabar pertama yang diterbitkan oleh pihak swasta asing di Beijing. Surat kabar
tersebut dicetak pada sebidang kayu dan dipublikasikan secara pribadi pada
akhir masa pemerintahan Dinasti Ming.
Penyampaian
informasi melalui surat kabar didukung penemuan mesin cetak oleh Gutenberg pada
tahun 1450. Salah satu berita terbesar yang pertama kali diberitakan adalah
pengumuman hasil ekspedisi Christoper Columbus ke Benua Amerika pada tahun
1493. Pada tahun 1556, Pemerintah Venesia menerbitkan Notizie
Scritte yang terbit bulanan dengan harga satu gazetta.
Media ini ditulis tangan dan berisi kumpulan berita yang digunakan untuk
menyampaikan berita politik, militer, dan ekonomi secara cepat dan efisien ke
seluruh Eropa, khususnya Italia.
Media-media
tersebut tidak layak disebut sebagai surat kabar karena tidak diperuntukkan
untuk masyarakat umum dan terbatas pada topik tertentu. Pada awal tahun
1600-an, penerbitan yang menjadi cikal bakal surat kabar beredar di Inggris dan
Perancis. Sebuah kumpulan berita yang dikenal bernama “Relations” atau “Relaciones” dalam
bahasa Spanyol. Media penyiaran berita umumnya dicetak dalam lembaran besar
kemudian dipasang di tempat umum. Terbitan tersebut menyerupai pamflet dan
untuk berita yang panjang berupa buku kecil ditambah dengan ilustrasi
sederhana. Terbitan tersebut sering dibacakan keras-keras karena rasio buta
huruf yang tinggi.
Istilah
surat kabar umum digunakan pada abad ke-17. Namun, pada awal abad ke-16 muncul
surat kabar seperti sekarang di Jerman. Media tersebut dicetak, memiliki
tanggal terbit, terbit teratur, dan keragaman berita. Surat kabar pertama
dikenal dengan nama Strasbourg Relation. Surat kabar Jerman diatur
berdasarkan asal penerbit, tanggal, dan memuat halaman muka yang menarik. Relation
aller Fürnemmen und gedenckwürdigen Historien merupakan relation berbahasa
Jerman yang diakui sebagai surat kabar pertama. Tepatnya pada tahun 1605 Johann
Carolus menerbitkannya di kota Strasbourg. Surat kabar modern pertama Jerman
dicetak di Wolfenbüttel, dan disebut Avisa.
Pada
tahun 1620 surat kabar berbahasa Inggris pertama, Corrant dicetak
di Amsterdam dan diterbitkan di Italia dan Jerman. La Gazette yang
semula bernama Gazette de France adalah surat kabar pertama di
Perancis yang terbit pada tahun 1631. Surat kabar berbahasa Spanyol pertama, Gaceta
de Madrid terbit pada tahun 1661. Post-och Inrikes Tidnigar (semula
bernama Ordinari Post Tijdender) diterbitkan di Swedia pertama kali
pada tahun 1645 dan menjadi surat kabar tertua yang masih terbit hingga saat
ini walaupun berbentuk online. Pada tahun 1656 diterbitkan surat
kabar Opregte Haarlemsche Courant dari Haarlem, dan merupakan
surat kabar tertua yang masih terbit dalam bentuk cetakan hingga saat ini.
Ketika Jerman menguasai Belanda pada tahun 1942, penerbitan dilebur dengan
perusahaan Haarlems Dagblad. Sejak saat itu, penerbitan surat kabar ini selalu
mencantumkan tulisan Oprechte Haerlemse Courant 1656.
Nathaniel
Butter dianggap sebagai orang pertama yang menciptakan surat kabar berbahasa
Inggris yang terbit secara berkala pada tahun 1622. Pada tahun 1665 di Inggris,
terdapat surat kabar pertama yang terbit teratur setiap hari bernama “Oxford
Gazette”. Ketika Henry Muddiman menjadi editor, Oxford Gazette berubah
nama menjadi “London Gazette”. Henry adalah orang pertama yang
menggunakan istilah “Newspaper”. The Daily Courant pada tahun 1702
menjadi surat kabar yang memberitakan masalah politik dan pemerintahan.
Di
Amerika Serikat, seorang berkebangsaan Inggris bernama Benjamin Harris
menerbitkan surat kabar pertama pada tahun 1690 dengan nama “Public
Occurences Both Foreign and Domestick”di Boston. Surat kabar ini tidak
bertahan lama karena tidak memiliki izin resmi penerbitan. Surat kabar pertama
yang memiliki izin penerbitan adalah Boston News-Letter yang
terbit secara berkala di negara bagian Boston pada tahun 1704. The
Pennsylvania Evening Post merupakan harian pertama yang memenuhi
kebutuhan informasi masyarakat Pennsylvania pada tahun 1783.
II. Karakteristik Surat Kabar
Karakteristik surat kabar sebagai
media massa mencakup :
1. Publisitas
Disebut
juga publicity yang merupakan penyebaran pada publik atau
khalayak (Effendy, dalam Karlinah, dkk. 1999). Salah satu karakteristik media
massa adalah pesan dapat diterima oleh sebanyak-banyaknya khalayak karena pesan
tersebut penting untuk diketahui umum. Dengan demikian, pesan-pesan melalui
surat kabar harus memenuhi kriteria tersebut.
2. Periodesisasi
Menunjuk
pada keteraturan terbitnya. Sifat ini sangat penting dimiliki media massa. Sama
seperti halnya makan, manusia setiap hari membutuhkan informasi. Maka surat
kabar harus memiliki periodisasai terbitnya surat kabar tersebut.
3. Universalitas
Menunjuk
pada kesemestaan isinya, yang beraneka ragam dan dari seluruh dunia. Isi surat
kabar meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, seperti masalah sosial ekonomi
dan lain-lain. Selain itu, lingkup kegiatannya bersifat lokal, regional,
nasional bahkan internasional. Jadi bila penerbitan hanya memiliki satu
aspek saja, terbitan tersebut tidak bisa disebut dengan surat kabar.
4. Aktualitas
Menurut
kata asalnya, aktualitas berarti “kini” dan “keadaan sebenarnya”. Kedua istilah
tersebut erat kaitannya dengan berita, karena berita adalah laporan tercepat
mengenai fakta-fakta atau opini yang menarik minat dan penting. Laporan
tercepat menunjukkan kekinian atau terbaru.
5. Terdokumentasikan
Beberapa
pihak seringkali menjadikan berita di koran sebagai kliping atau arsip. Karena
berita memang menyajikan berbagai fakta dalam bentuk berita dan artikel.
III. Penerbitan Surat Kabar dalam
Hubungannya di Bidang Ekonomi dan Politik
A. Ekonomi
Pada
permulaan abad ke-17, Amsterdam menjadi pusat persuratkabaran Eropa.
Surat kabar dianggap sebagai media yang menggambarkan komersialisasi informasi
dengan sangat baik. The Corrant out of Italy, Germany etc dan The
Courant d’Italie merupakan dua surat kabar yang diterbitkan pertama
kali, yaitu pada tahun 1620. Munculnya kedua surat kabar tersebut di lingkungan
masyarakat merangsang perkembangan surat kabar mulai dari tahun 1662 hingga
saat ini.
Penemuan
mesin cetak oleh Gutenberg memicu kesadaran para pengusaha akan pentingnya
publisitas. Para pengusaha mulai menawarkan produk-produk mereka melalui
iklan-iklan yang dimuat di surat kabar. Surat kabar pada masa itu dianggap
sangat efektif menyebarkan pengaruh tertentu terhadap pembaca.
Pada permulaan abad ke-18, apa yang disebut Asa Briggs dan Peter Burke sebagai
“kediktatoran jarak” dapat diatasi dengan lalu lintas informasi yang
membelah Atlantik dari Inggris ke Boston. Saat itu, informasi disajikan lewat
lembaran-lembaran kertas yang tidak tersistem. Kebutuhan akan efektifitas
penggunaan kertas sehingga memangkas beban angkut sekaligus biayanya lambat
laun melahirkan surat kabar.
Disini
kami mencoba menjelaskan satu contoh kasus surat kabar yang mempunyai hubungan
di bidang ekonomi. Kepemilikan suatu surat kabar tampaknya menjanjikan
keuntungan besar jika dilihat dari banyaknya pemasang iklan di surat kabar.
Beberapa pengusaha pun tertarik untuk melebarkan sayapnya di dunia media cetak.
Selain tujuan finansial, surat kabar juga dapat dijadikan alat propaganda
masyarakat yang efektif. Salah satu contohnya adalah kepemilikan La
Stampa oleh Fiat S.p.A.
La
Stampa adalah salah satu koran nasional besar di Italia.
Koran ini sudah berdiri sejak tahun 1867 meski dengan nama berbeda yakni Gazetta Piedmontese. La Stampa sudah berkali-kali berganti pemilik dan
pemimpin. Hingga akhirnya pada tahun 1926, sebuah perusahaan otomotif terkemuka
di Italia, Fiat, mengambil alih kepemilikan surat kabar nasional ini. Fiat
memanfaatkan La Stampa untuk mendukung kegiatan komunikasi dan
publikasi produk dari perusahaannya. Bahkan hingga kini, La Stampa masih
berada di bawah naungan Fiat S.p.A.
B.
Politik
Penemuan
mesin cetak juga merangsang para pelaku pemerintahan untuk melakukan propaganda
melalui media tertulis, baik propaganda mengenai profil mereka ataupun
kebijakan-kebijakan yang akan diterapkan. Seperti yang dilakukan Raja Louis XIV
yang "kemegahan" reputasi pemerintahannya (1661) merupakan buah
tangan surat kabar.
Praktek
propaganda sudah terlihat bahkan pada tahun-tahun sebelum masa pemerintahan
Raja Louis XIV. Bersamaan dengan Fronde (Perang Saudara Inggris atau Revolusi
Inggris) tahun 1648-1652, terjadi ledakan bahan cetakan dimana propaganda
mengenai kebebasan percetakan yang tidak berlisensi dilancarkan. Propaganda
tersebut merupakan cikal bakal lahirnya kebebasan pers dewasa ini.
Surat
kabar dianggap sebagai wadah masyarakat menyampaikan aspirasi poltiknya.
Seperti dalam koran mingguan dalam bahasa Perancis, Gazette d’Amsterdam yang
mulai memuat tulisan-tulisan yang mengkritik Gereja Katolik dan kebijaksanaan
pemerinta Perancis. Surat kabar merupakan salah satu pelopor munculnya
"opini publik" yang pada masa-masa berikutnya berkembang lebih luas
menjadi "ruang publik".
IV. Perkembangan Surat Kabar di Indonesia
A.
Surat Kabar di Indonesia
Dalam perkembangannya, surat kabar di Indonesia memiliki runtutan fase yaitu
yang pertama kalinya muncul adalah koran Bromartani yang
diterbitkan oleh Harteveld & Co di Surakarta menggunakan bahasa Jawa. Koran Bromartani ini
merupakan tiga koran tertua di Indonesia. Selain koran Bromartani,
ada juga dua koran tertua lainnya yakni Soerat Kabar Bahasa Melayu,
yang diterbitkan di Surabaya oleh penerbit E.Fuhri. koran ketiga yaitu Soerat
Chabar Batavie yang pertama kali diterbitkan pada hari
Sabtu 3 April 1858 oleh pengusaha Longe & Co. Kemudian disusul Selompret
Melajoe di Semarang pada tahun 1860.
Pada
era ini, di luar Jawa juga lahir sejumlah surat kabar antara lain Celebes
Courant dan Makassar Handelsblad di Ujungpandang, Tjahja
Siang di Manado, Sumatra Courant dan Padangsch
Handelsblad di Padang. Sementara di Batavia juga lahir sejumlah koran.
Yang paling popular yakni Bintang Betawi. Hanya saja koran-koran
yang terbit pada masa awal sejarah pers tersebut kebanyakan dikelola kaum
kolonial.
Disamping itu, juga terdapat surat kabar asing yang masuk dan beredar di
Indonesia. Bahasa yang digunakan masih menggunakan bahasa Belanda, karena surat
kabar di masa itu diatur oleh pihak Binnenland Bestur (pengusaha
dalam negeri). Hal yang diberitakan hanya hal-hal yang biasa dan ringan dari
aktivitas pemerintah yang monoton, kehidupan para raja, dan sultan di Jawa
sampai berita ekonomi dan kriminal. Yang pertama kali adalah Bataviase
Nouvelles. Surat kabar ini diterbitkan pada jaman kompeni yaitu pada
tanggal 7 Agustus 1744. Kala itu, Bataviasche Nouvelles hanya
memuat berita tentang acara resepsi pejabat, pengumuman kedatangan kapal, stok
barang dagangan, atau berita duka cita. Kemudian pada tanggal 5 Agustus 1810
surat kabar kedua terbit dengan nama De Bataviasche Koloniale Courant oleh
Daendles.
Bataviasche
Koloniale Courant tercatat sebagai surat kabar
pertama yang terbit di Batavia. Surat kabar ketiga terbit pada 29 Februari 1812
dengan nama The Java Gouverment Gazette yang kemudian sering
disingkat Java Gazette. Keempat surat kabar berita negara, surat
kabar ini diterbitkan pada tahun 1828 dengan menggunakan nama De
Bataviasche Courant. Kemudian pada tahun 1836 terbit surat kabar
kelima yaitu Soerabaijas Advertentie. Di Surabaya (1835)
terbit Soerabajasch Niew en Advertentiebland. Sedangkan di Semarang
terbit Semarangsche Advertentiebland dan De Searangsche
Courant.
Kemudian baru pada tahun 1900-an Dr. Wahidin Soedirohusodo menangani surat
kabar Redno Dhoemilah dalam dua bahasa yaitu Jawa dan Melayu.
Hal ini didasari setelah kolonial Belanda mengijinkan kaum Tionghoa mengelola
media cetak. Orang-orang bumiputra baru mulai belajar mengelola koran setelah
Tionghoa mulai menerbitkan surat kabar. Pada masa inilah mulai mengkampanyekan
nasionalisme, pendidikan masyarakat, persamaan derajat dan budi pekerti.
Redno
Dhoemila ini merupakan media pers lokal, hanya saja surat kabar Redno
Dhoemilah ini juga didirikan oleh orang Belanda, FL Winter, dengan
perusahaan penerbit milik kolonial H Bunning Co. Dan pada tahun 1901 Datuk
Sultan Marajo bersama adiknya yang bernama Baharudin Sutan Rajo nan Gadang
menerbitkan dan memimpin sendiri sebuah surat kabar yang diberi nama Warta
Beritayang merupakan surat kabar pertama di Indonesia yang berbahasa
Indonesia, dimiliki dan redakturnya orang Indonesia.
B. Dinamika Pers
di Indonesia
Perkembangan pers,
dalam hal ini terutama surat kabar di Indonesia dapat
dikategorikan ke dalam 8 jaman, yaitu :
1. Zaman Penjajahan Belanda.
Memories
der Nouvelles merupakan surat kabar pertama yang terbit di Indonesia
atas perintah Jan Pieterzoon Coen pada tahun 1615. Surat kabar ini hanya
ditulis dengan tangan dan diterbitkan oleh pemerintah VOC. Tanggal 14 Maret
1688, mesin cetak dari Belanda tiba di Indonesia, maka diterbitkanlah
surat kabar tercetak yang pertama yang berisi perjanjian antara Belanda
dengan sultan Makassar. Sifat koran tercetak pertama tersebut semata-mata
komersiil belaka dan isinya adalah berita-berita tentang Indonesia dan Eropa
serta dapat dikatakan hanya diusahakan oleh seorang saja, sebab pengusaha
merangkap menjadi penerbit, pencetak sekaligus redaktur.
Pada
tahun 1828 di Jakarta diterbitkan Javasche Courant yang isinya
memuat berita-berita resmi pemerintahan, berita lelang dan berita kutipan dari
harian-harian di Eropa. Di Surabaya (1835) terbit Soerabajasch
Advertentiebland yang kemudian diganti namanya menjadi Soerabajasch
Niews en Advertentiebland dan Semarangsche Courant. Surat
kabar yang terbit pada masa itu tidak mempunyai arti secara politis karena
lebih merupakan surat kabar periklanan. Tidak lebih dari 1000-2000 eksemplar
setiap kali terbit.
Bukan
hanya di Jawa saja orang Belanda mengusahakan penerbitan surat kabar, tetapi
juga di Sumatera dan Sulawesi. Di Padang pada masa itu terbit Soematra
Courant, Padang Handeslsblanddan Bentara Melajoe. Di Makasar
(Ujung Pandang) terbit Celebes Courant dan Makassaarch
Handelsbland.
Versi
lainnya, menurut Van der Kroef, Bromartani disebut sebagai surat
kabar Indonesia pertama yang berbahasa melayu. Surat kabar ini terbit di
Surakarta pada tahun 1855 yang kemudian disusul beberapa surat kabar lainnya
seperti Slompret Melajoe yang terbit di Semarang pada
tahun 1860, Bintang Timur pada tahun 1862 di Surabaya dan Matahari di
Jakarta. Namun surat kabar-surat kabar tersebut jelas masih jauh di
belakang Belanda dan China pada waktu itu. Hal ini disebabkan karena kurangnya
tenaga kerja yang cakap, kurangnya dana, adanya tekanan dari penjajahan Belanda
dan sedikitnya masyarakat pribumi yang bisa baca tulis.
2. Masa
Kebangkitan Nasional/ Zaman pergerakan
Diawali
munculnya pergerakan Budi utomo pada tanggal 20 Mei 1908, surat kabar
Indonesia mulai disebut sebagai surat kabar perjuangan. Surat kabar ini
berfungsi sebagai pendorong bangsa Indonesia dalam memperjuangkan nasib & kedudukan
bangsa dan untuk menyampaikan azas, tujuan dan program aksi partai
mengingat mulai munculnya banyak organisasi pergerakan dari berbagai golongan
yang berbeda.
Masing-masing
organisasi memiliki surat kabar masing masing. Budi Utomo sendiri menaungi
surat kabar seperti Retnodoemilah, Darmo Kondo, Guru Desa dan Medan Priyayi.
Sarekat Islam menaungi surat kabar Utusan Hindia, Bendera Islam, dan Kaum Muda. Serta
masih banyak surat kabar lainnya yang berada dibawah paying organisasi
pergerakan lain. Surat kabar-surat kabar tersebut membawa suara pergerakan dan
membangkitkan kesadaran nasional untuk bergerak ke arah pemerintahan sendiri.
Dari segi teknik cetak dan tenaga redaksi surat kabar ini masih jauh
ketinggalan jika dibandingkan dengan surat kabar buatan belanda. Namun melalui
surat kabar tersebut, bangsa Indonesia lebih leluasa, teratur dan terarah dalam
menyampaikan aspirasi nasional untuk merdeka.
3. Zaman Pendudukan Jepang
Surat
kabar Indonesia masih terbit pada awal pendaratan tentara Jepang di
Indonesia setelah pecahnya perang Pasifik pada tahun 1941. Namun setelah
kurang lebih sebulan lamanya Jepang menduduki Indonesia, surat kabar
berbahasa Belanda dihanguskan dan semua surat kabar yang tadinya berusaha
berdiri sendiri dipaksa untuk bergabung menjadi satu dengan Jepang. Segala
usahanya disesuaikan dengan rencana serta tujuan tentara jepang untuk
memenangkan Perang Asia Timur Raya. Sehingga surat kabar-surat kabar Indonesia
menemui ajalnya.
Surat
kabar baru yang semata-mata menjadi alat pemerintah Jepang mulai
diterbitkan. Diantaranya Asia Raya yang terbit di Jakarta, Sinar Baru di Semarang, Suara Asia di
Surabaya danTjahaja yang diterbitkan di Bandung. Kabar dan
berita yang dimuat di surat kabar ini hanyalah yang pro Jepang.
Pers
nasional di masa pendudukan Jepang memang mengalami pengekangan dan
penderitaan lebih jika dibandingkan dengan masa penjajahan Belanda. Namun
tidak sedikit pula keuntungan yang diperoleh. Diantaranya, bertambah luasnya
pengalaman karyawan pers Indonesia, tersedianya fasilitas-fasilitas yang lebih
lengkap, dalam bidang komersiil mengalami kemajuan.
Di
jaman Jepang, oplah surat kabar yang terbit berkisar 20-30 eksemplar perhari
dan ini merupakan suatu peningkatan yang cukup bagus. Seperti itulah keadaan
pers Indonesia di jaman pendudukan Jepang, di samping banyak hal pahit
yang dialami, namun ada juga keuntungan yang diperoleh.
4. Masa
Revolusi Fisik/ Zaman Kemerdekaan
Setelah
diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, dalam periode ini pers Indonesia
membawa corak tersendiri dalam sifat dan fungsinya. Pers Indonesia
digolongkan dalam dua kategori, yaitu terbit dan diusahakan di daerah
pendudukan sekutu juga Belanda (pers NICA) dan pers yang terbit dan
diusahakan di daerah yang dikuasai republik (pers republic). Kedua
golongan pers ini sangat berlawanan. Pers Republik berisi semangat
mempertahankan kemerdekaan dan menentang usaha pendudukan sekutu. Pers NICA
berusaha mempengaruhi rakyat agar menerima kembali Belanda.
Pekerja
pers menyadari betapa berpengaruhnya surat kabar sebagai alat pembangkit
semangat dan jiwa kepahlawanan maka diterbitkan surat kabar berita Indonesia di Jakarta.
Surat kabar ini dianggap sebagai pelopor koran-koran republik. Sehingga
terbitlah koran-koran republik lainya di berbagai daerah. Pers Republik memang
mengalami berbagai kesulitan di daerah-daerah pendudukan namun pada akhirnya
mengalami kemenangan yang gemilang atas pers NICA. Dengan terpaksa Belanda
mengakui kedaulatan Republic Indonesia pada desember 1949.
Dalam
periode revolusi fisik ini mulai timbul gejala-gejala bahwa pers Indonesia
mulai beralihmenggunakan cara yang ditempuh dalam lingkup demokrasi
liberal. Setelah dikeluarkanya maklumat pemerintah pada November 1945, mulai
muncul partai politik yang berusaha mempengaruhi pers dan memiliki surat kabar
yang dapat menjadi terompet partai tersebut. Gejala lainnya yaitu
penyalahgunaan kemerdekaan pers yang menonjol sehingga istilah-istilah yang
sebenarnya kurang pantas digunakan menjadi hal yang sudah biasa digunakan
sehari-hari.
Namun
jika dilihat secara keseluruhan, peranan pers Indonesia selama revolusi fisik
tidaklah kecil. Mereka memelihara semangat perjuangan dan perlawanan rakyat
serta menyatukan tekad yang kuat menghadapi kaum penjajah.
5. Masa
Demokrasi Liberal
Periode
ini berkisar tahun 1950 sampai tahun 1959. Merupakan suatu lembaran
hitam dalam sejarah pers Indonesia. Untuk memperoleh pengaruh dan dukungan
pendapat umum, pers yang pada masa ini mewakili aliran-aliran politik yang
saling bertentangan, menyalahgunakan freedom of the press. Bahkan
tak jarang melampaui batas kesopanan.
Para
wartawan dalam masa liberal ini banyak dihinggapi jiwa liberalitas dan penyakit
sinisme. Bahkan krisis moril juga menghinggapi para pekerja pers ini. Mereka
memuat berita-berita tak bernilai, tuduhan-tuduhan keji, dan artikel-artikel
sensasional yang tidak bermutu. Pers Indonesia seolah tertidur dan lupa akan
perjuangan dan pembangunan yang harus dilanjutkan agar mampu mencapai tujuan ke
depan.
Dengan
dibentuknya kabinet Karya sebagai pengganti kabinet ARI, pers
Indonesia mulai bisa dikendalikan. Secara perlahan dan bertahap mulai
melaksanakan fungsinya seperti yang diharapkan oleh masyarakat. Untuk mencapai
tujuan masyarakat yang adil dan makmurbukan dengan saling jegal-menjegal
melainkan bekerja sama. Jika ditilik kembali mengenai fungsi dan sistim
pers Indonesia di masa liberal, maka dapat dikatakan bahwa penyelewengan yang
dilakukan oleh pihak pers tersebut dikarenakan salahnya mengartikan praktik
dari kebebasan per tersebut.
6. Masa
Demokrasi Terpimpin/ Orde Lama
Masa
orde lama dipimpin oleh presiden Soekarno sebagai tindak lanjut dekrit
presiden 5 juli 1959. Dalam pelaksanaanya, ternyata prinsip demokrasi yang
hendak ditegakkan tidak sesuai dengan pernyataan pemerintah. Bahkan jauh
menyimpang dan bertentangan dengan UUD 1945. Kenyataan dari demokrasi terpimpin
tersebut tercemin pula dalam dunia pers Indonesia pada masa itu.
Fungsi
dan sistem pers dapat dikatakan menganut konsep otoriter. Pers digunakan
senagai terompet penguasa dan bertugas mengagung-agungkan pribadi Soekarno
sebagai pemimpin besar revolusi dan mengindoktrinasi manipol. Kekangan pers
tetap berlaku, bahkan pers diberi tugas sebagai alat kolektif penggerak
aksi-aksi masa secara revolusioner dengan membangkitkan jiwa, kehendak, dan
tindakan massa dengan tujuan melaksanakan manipol serta segala ketetapan yang
diambil pemerintah.
Kurang
lebih 10 hari setelah Dekrit Presiden RI menyatakan kembali ke UUD 1945,
tindakan tekanan pers terus berlangsung. Terjadi pembredelan terhadap
kantor berita PIA dan surat kabar Republik, Pedoman, Berita Indonesia, dan Sin
Po. Awal tahun 1960 penekanan kebebasan pers diawali dengan peringatan
Menteri Muda Maladi bahwa “langkah-langkah tegas akan dilakukan terhadap surat
kabar, majalah-majalah, dan kantor-kantor berita yang tidak menaati peraturan
yang diperlukan dalam usaha menerbitkan pers nasional”. Penguasa perang juga mulai
mengenakan sanksi-sanksi perizinan terhadap pers.
Tahun
1964 kondisi kebebasan pers makin buruk: digambarkan oleh E.C. Smith dengan
mengutip dari Army Handbook bahwa Kementerian Penerangan dan badan-badannya
mengontrol semua kegiatan pers. Perubahan ada hampir tidak lebih sekedar
perubahan sumber wewenang, karena sensor tetap ketat dan dilakukan secara
sepihak.
7. Masa
Orde Baru
Dengan
dikeluarkanya Supersemar oleh presiden Soekarno kepada Jendral Soeharto,
maka dimulailah babak baru pemerintahan Indonesia. Dalam periode ini dikatakan
bahwa UUD 45 danPancasila benar-benar ingin dilaksanakan secara murni dan
konsekuen. Sehingga lahirlah istilah pers Pancasila.
Menurut
sidang pleno ke 25 Dewan Pers bahwa Pers Pancasila adalah pers Indonesia dalam
arti pers yang orientasi, sikap, dan tingkah lakunya didasarkan pada
nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Hakekat pers Pancasila adalah pers yang
sehat, bebas dan bertanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar
informasi yang benar dan objektif, penyalur aspirasi rakyat, dan kontrol sosial
yang konstruktif.
Masa
kebebasan ini berlangsung selama delapan tahun. Namun pers kembali seperti
zaman orde lama karena terjadi peristiwa Malari (Lima Belas Januari 1974).
Dengan munculnya peristiwaMalari beserta peristiwa-peristiwa lainnya, beberapa
surat kabar dilarang terbit/dibredel, diantaranyaKompas, Harian
Indonesia Raya dan Majalah Tempo yang merupakan contoh-contoh
kentara dalam sensor kekuasaan ini.
Pers
pasca peristiwa Malari cenderung pers yang mewakili kepentingan penguasa,
pemerintah atau negara. Kontrol terhadap pers ini dipegang melalui
Departemen Penerangan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hal inilah yang
kemudian memunculkan Aliansi Jurnalis Indepen yang mendeklarasikan diri di
Wisma Tempo Sirna Galih, Jawa Barat. Beberapa aktivisnya dimasukkan ke penjara.
Pemerintah orde baru menganggap bahwa pers adalah institusi politik yang harus
diatur dan dikontrol sebagaimana organisasi masa dan partai politik.
8. Masa
Reformasi
Titik
kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto. Banyak
media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya
organisasi profesi. Kalangan pers kembali bernafas lega karena pemerintah
mengeluarkan UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi manusia dan UU no. 40 tahun
1999 tentang pers.
Dalam
UU Pers tersebut dengan tegas dijamin adanya kemerdekaan pers sebagai Hak asasi
warga negara (pasal 4) dan terhadap pers nasional tidak lagi diadakan
penyensoran, pembredelan, dan pelarangan penyiaran (pasal 4 ayat 2). Dalam
mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan memiliki hak tolak
agar wartawan dapat melindungi sumber informasi, dengan cara menolak
menyebutkan identitas sumber informasi, kecuali hak tolak gugur apabila demi
kepentingan dan ketertiban umum, keselamatan negara yang dinyatakan oleh
pengadilan.
Hingga
kini kegiatan jurnalisme diatur dengan Undang-Undang Penyiaran dan Kode Etik
Jurnalistik yang dikeluarkan Dewan Pers. Namun kegiatan jurnalisme ini juga
cukup banyak yang melanggar kode etik pers sehingga masih menimbulkan
kontroversi di masyarakat.
V. Majalah
A.
Sejarah Majalah
Kata ‘majalah’ berasal dari bahasa Prancis, yaitu ‘magasin’ yang
berarti gudang atau ruang tempat menyimpan sesuatu. Beberapa ahli
mendefinisikan kata ‘majalah’ sebagai kumpulan berita, artikel, cerita, iklan,
dan sebagainya,yang dicetak dalam lembaran kertas ukuran kuarto atau folio dan
dijilid dalam bentuk buku, serta diterbitkan secara berkala. Majalah dapat
diterbitkan secara berkala seminggu sekali, dua minggu sekali atau bahkan
sebulan sekali namun tidak setiap hari.
Majalah pertama kali terbit sejak tahun 1665 di Prancis, yaitu Le
Journal de savants. Namun pada saat itu majalah ini masih berupa
sisipan dari surat kabar. Le Journal de savant ini merupakan
majalah periodik yang berisi berita penting dari berbagai buku dan penulis,
komentar seni, filsafat, dan iptek.
Di Inggris, majalah yang pertama kali terbit adalah majalah Tatler,
yaitu pada tahun 1709 – 1711 dan The Spectactor pada tahun
1711-1712. Namun kedua majalah tersebut hanyalah merupakan majalah yang terbit
singkat. Gentlemen’s Magazine lebih tepat disebut sebagai
majalah umum pertama yang terbit di Inggris. Majalah ini mulai terbit pada
tahun 1731 dan dapat bertahan hingga tahun tahun 1901. Gentlemen’s
Magazine ini berisi berbagai topik tentang sastra, politik, biografi,
dan kritisisme. Menyusul sepuluh tahun kemudian, majalah pertama terbit di
Amerika Serikat.
Sedangkan di Indonesia, pada masa – masa awal penerbitan pers, majalah lebih
banyak digunakan sebagai media penggerak massa untuk melawan pemerintahan yang
tidak berpihak pada masyarakat. Di samping itu majalah juga dijadikan alat
penyebaran ideologi, kebijakan, atau untuk memperjuangkan kepentingan kelompok
tertentu. Dengan kata lain, pada awalnya penggunaan majalah di Indonesia
cenderung bersifat idealis dan politis.
Kemudian setelah konflik politik mengendur, pers Indonesia mulai menampakkan
sisi liberal. Kepentingan yang ada dalam penerbitan majalah mulai bergeser pada
kepentingan bisnis yang berorientasi profit. Majalah – majalah baru yang
berkonten umum mulai bermunculan dengan tujuan meraih pasar seluas – luasnya
demi memperoleh keuntungan sebanyak – banyaknya.
B.
Perkembangan Majalah
Dunia percetakan mengalami kemajuan tak henti – henti sejak dikembangkannya
mesin cetak oleh Johannes Guttenberg pada tahun 1455. Penemuan mesin cetak ini
secara dramatis telah meningkatkan kecepatan produksi berbagai barang cetakan,
yang tentu saja majalah termasuk salah satunya. Dengan adanya mesin cetak ini
waktu yang digunakan untuk memproduksi barang cetakan banyak berkurang sehingga
produk yang dihasilkan juga semakin banyak.
Kemajuan teknologi juga merupakan salah satu faktor penting yang menunjang
perkembangan majalah. Sebelumnya penerbit media harus cekatan dalam pengumpulan
beritadari berbagai tempat. Makin tingginya kecanggihan teknologi cetak
mempercepat penyebaran buku dan majalah hingga menjadi massal.
Perubahan besar pada industri majalah terjadi pada tahun 1890-an, yaitu ketika
sejumlah penerbit mulai mengubah industri penerbitan majalah secara
revolusioner. Pengubahan industri penerbitan ini terjadi karena para penerbit
tersebut melihat adanya ratusan ribu calon pelanggan yang belum terlayani oleh
majalah yang ada. Maka dari itu beberapa tokoh penerbit majalah, seperti S.S.
McClure, Frank Musey, dan Cyrus Curtis menciptakan majalah yang isinya
sesuai dengan selera dan kepentingan orang banyak.
Munsey’s
dan McClure’s mulai menyajikan artikel olahraga umum, tulisan tentang perang,
lagu-lagu populer, selebritis, dan sebagainya. Sedangkan Curtis menerbitkan
majalah kaum ibu yang diberi nama Ladies’
Home Journal. Majalah – majalah lain dengan berbagai fokus yang berbeda,
seperti majalah – majalah khusus seni, arsitektur, kesehatan, dan sebagainya
pun mulai bermunculan tak lama kemudian. Kondisi ini kemudian menimbulkan
sebuah fenomena yang disebut dengan popularisasi dan segmentasi isi.
C. Perkembangan Majalah di Indonesia
Perkembangan majalah di Indonesia
terbagi menjadi empat fase, yaitu pada masa awal kemerdekaan, zaman orde
lama, zaman orde baru, dan zaman reformasi.
a. Awal kemerdekaan
Pada
awal kemerdekaan, semua majalah diterbitkan dengan satu tujuan, yaitu untuk
menghancurkan sisa-sisa kekuasaan Belanda. Rakyat Indonesia berusaha untuk
mengobarkan semangat perlawanan rakyat terhadap bahaya penjajahan, menempa
persatuan nasional untuk keabadian kemerdekaan bangsa serta menegakan
kedaulatan rakyat.
b.
Zaman orde lama
Nasib
majalah pada masa orde lama dapat dikatakan sangat tragis sejak dikeluarkannya
pedoman resmi untuk penerbit surat kabar dan majalah di seluruh Indonesia.
Dalam pedoman ini surat kabar dan majalah di Indonesia wajib menjadi pendukung,
pembela dan alat penyebar “Manifesto Politik” yang pada saat itu menjadi haluan
negara dan program pemerintah. Akibatnya perkembangan majalah tidak begitu baik
majalah yang terbit relatif sedikit.
c.
Zaman orde baru
Awal
orde baru banyak majalah terbit dengan cukup beragam jenisnya. Bahkan terdapat
kategorisasi majalah yang terbit pada masa orde baru ini, yaitu:
· majalah
berita : Tempo, Gatra, Sinar, Teras
· majalah
keluarga : Ayahbunda, Famili
· majalah
wanita : Femina, Kartini, Sarinah
· majalah
pria : Matra
· majalah
remaja wanita : Gadis, Kawanku
· majalah
remaja pria : Hai
· majalah
anak – anak : Bobo, Ganesha, Aku Anak Saleh
d.
Zaman reformasi
Pada
zaman reformasi tidak diperlukan lagi Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP)
untuk membuka usaha penerbitan. Hal ini membuat berbagai pihak menerbitkan
majalah baru dapat terbit sesuai dengan tuntutan pasar.
masa sekarang
Berbeda
dengan majalah pada awal diterbitkannya, seiring dengan berkembangnya zaman dan
teknologi majalah saat ini dapat langsung diakses melalui berbagai media. Baik
melalui internet atau bahkan melalui handphone sekalipun. Hal
ini semakin mempermudah masyarakat dalam mengkonsumsi majalah – majalah yang
ada.
D.
Jenis – jenis Majalah
Secara
garis besar, Rivers (1983: 5) membagi majalah ke dalam empat jenis, yaitu:
1. Mass
Magazine
Mass
magazine mempunyai oplah yang besar. Jenis majalah ini berusaha
menjembatani khalayak dari berbagai latar belakang melalui isinya yang bersifat
umum. Contoh dari jenis majalah ini adalah OktoMagazine yang kontennya berisi
berbagai macam topik mulai dari kesehatan, makanan dan minuman, seni dan
budaya, dan masih banyak lagi.
2. News
Magazine
News
magazine memiliki jumlah pembaca yang banyak yang memiliki
ketertarikan terhadap isu-isu kontemporer. News magazine memberikan
pembaca pemahaman tentang konteks yang ada dalam sebuah peristiwa, bukan
sekedar fakta. Contoh : Majalah Tempo.
3. Class
Magazine
Secara
harafiah, class magazine dapat diartikan sebagai ‘majalah
berkelas’. Kualitas dan konten majalah ini ditujukan bagi pembaca yang
berpendidikan tinggi serta tertarik pada urusan publik dan sastra. Meski jumlah
pembacanya tidak terlalu banyak, majalah jenis ini mempunyai pengaruh yang
cukup kuat karena menghadirkan opini dari para pemimpin atau penguasa. Contoh :
Majalah Cakra.
4. Specialized
Magazine
Specialized
magazine menyajikan konten spesifik bagi pembaca yang spesifik pula.
Majalah jenis ini dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
Business papers:
Diterbitkan oleh lembaga independen yang bersifat komersil. Informasi di
dalamnya penting bagi bisnis, industri, atau profesi tertentu. Salah satu
contohnya adalah Majalah Franchise.
Company
publications: Diterbitkan oleh firma/perusahaan dan didistribusikan ke
karyawan, pengecer, pelanggan, dan pemegang saham. Contoh dari jenis majalah
ini adalah majalah internal perusahaan PT New Ratna Motor “â Nasmoco News
â”. Majalah ini bertujuan sebagai media komunikasi antar karyawan PT New
Ratna Motor dalam memberikan informasi dan hiburan serta sebagai sarana untuk
memberikan motivasi kerja bagi karyawan.
Association
journals: Mirip dengan business papers, hanya saja
majalah jenis ini diterbitkan oleh asosiasi atau organisasi tertentu. Contoh :
Majalah NU Aula.
VI. Penyebab Dampak Negatif Tulisan
di Surat Kabar dan Majalah
Hampir di semua negara, kebebasan pers selalu
dilindungi oleh undang-undang. Sayangnya, terkadang ada pihak yang
menyalahgunakan kebebasan pers ini dengan menulis hal-hal yang memicu protes
pembaca. Seperti yang dilakukan surat kabar asal Denmar, Jyllands-Posten,
pada edisi 30 September 2005. Pada hari itu mereka menerbitkan dua belas
karikatur satir Muhammad, nabi terakhir agama Islam. Entah apa motif
sesungguhnya Jyllands-Posten tidak menyensor karikatur berbau
SARA ini. Menurut mereka karikatur ini hanyalah ilustrasi artikel yang membahas
penyensoran diri (self-censorship) dan kebebasan berpendapat (freedom
of speech). Artikel ini ingin menunjukkan bahwa kebebasan berbicara berlaku
bagi siapapun.
Sejak
Organisasi Konferensi Islam (OKI) mulai menentang karikatur ini pada Desember
2005, kontroversi ini kemudian menghangat di dunia. Timbullah gelombang
protes masyarakat dunia kepada surat kabar ini. Ilustrasi tersebut merupakan
sebuah penghinaan besar-besaran terhadap agama Islam serta menunjukan adanya
Islamofobia di Denmark. Sekretaris Jenderal PBB pada waktu itu, Kofi Annan,
turut menyatakan keprihatinannya akan peristiwa ini dan berkata bahwa
“Kebebasan pers, harus selalu diterapkan melalui penghormatan terhadap
keyakinan agama dan ajaran seluruh agama”.
Di
Indonesia Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun mengecam keras
adanya mengecam keras karikatur Nabi Muhammad ini, namun beliau juga
menekankan bahwa umat Muslim diharapkan menerima permintaan maaf sang
penggambar dan jangan melakukan tindakan yang melanggar hukum.
Beberapa media massa sempat menerbitkan ulang karikatur
ini, termasuk dua tabloid asal Indonesia: Tabloid Gloria dan Tabloid PETA.
Pemuatan karikatur Nabi Muhammad SAW ini sempat menimbulkan keresahan
masyarakat. Pemimpin Redaksi (Pemred) Tabloid Gloria, David da Silva, memohon
maaf pada masyarakat dan mengaku khilaf atas terbitnya tabloid pada edisi 288
pekan ke II Februari 2006. Sekitar 8,000 eksemplar edisi ini pun segera ditarik
dari pasaran.
Bahkan
Pemimpin Redaksi (Pemred) Tabloid Peta, Wahab, akhirnya ditetapkan jadi
tersangka oleh Polda Metro Jaya terkait kasus pemuatan karikatur kontroversial
pada Tabloid Peta No. 53 edisi 12 Februari 2006. Selain Wahab, status tersangka
juga ditetapkan terhadap Cepi, manajer operasional tabloid itu. Keduanya
dikenakan tuduhan dalam pasal 156 A dan pasal 157 tentang penodaan terhadap
agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar